BNSP vs BSNP : Uji Kompetensi tiap 5 tahun sekali? Sabtu, Mar 31 2012 

BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sudah memberlakukan SKKNI (Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia) untuk tenaga kerja di berbagai sektor. BNSP akan melisensi LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi) yang berhak mengadakan uji kompetensi di TUK (Tempat Uji Kompetensi).

Ada hal menarik yg disampaikan oleh salah satu Master Asessor pada LSP saat pembukaan uji kompetensi untuk guru SMK di tahun 2009 yang saya ikuti, “Sertifikat kompetensi itu punya BATAS WAKTU, ketika masa berlakunya habis maka sertifikat kompetensi tersebut harus diperbarui, diperpanjang dan diuji ulang. Bila memang pemegang sertifikat itu sudah tidak kompeten pada unit kompetensi itu maka sertifikat kompetensi tersebut dicabut dan pemegangnya harus melakukan lagi uji kompetensi pada unit kompetensi tersebut. Hal ini untuk menjamin bahwa pemegang sertifikat kompetensi tersebut benar-benar kompeten”.

Nah, dunia pendidikan punya BSNP, LPMP, LPTK, 4 kompetensi guru,  dan organisasi profesi guru (misalnya Ikatan Guru Indonesia), bisakah menerapkan model uji kompetensi tersebut? Dalam benak saya nantinya LPMP dan organisasi profesi guru yang mengadakan uji kompetensi, Tempat Uji Kompetensinya bisa ada di LPTK ataupun sekolah yang sudah memenuhi persyaratan tertentu. Guru yang lulus mendapatkan sertifikat kompetensi dan bila masa berlakunya habis harus mengikuti perpanjangan/uji ulang. Berapakah idealnya masa berlaku sertifikat kompetensi tersebut? 5 tahunkah? Apakah tak berbatas waktu seperti yang dipegang oleh guru yang sudah mendapatkan sertifikat pendidik seperti sekarang ini? –masih bersambung–

Iklan

Cerita dari Sekolah : Kembali Membaca dan Menulis Sabtu, Des 24 2011 

Kembali ke sekolah memang membuatku menulis, tapi tulisan yang sudah baku dan ada formatnya, entah dari Dinas Pendidikan ataupun dari pihak sekolah melalui Wakasek Kurikulum. Tulisan itu antara lain struktur kurikulum, analisis kurikulum, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (termasuk di dalamnya kisi-kisi soal, butir soal, norma penilaian, dan kunci jawaban), dan lembar kerja praktik. Belum lagi bahan ajar dan setumpuk berkas-berkas terkait ISO 9001: 2008 (maklum, tempatku bekerja sudah menerapkan sistem manajemen mutu tersebut dan tahun ini adalah tahun kedua, sudah 1st follow up audit).

(lebih…)

Cerita dari Sekolah : Sepotong Kapur Tulis Selasa, Sep 22 2009 

Sudah lama saya ingin menulis lagi, baru saat ini saya punya waktu longgar. Mengapa saya ambil latar belakang sekolah, karena bagaimanapun juga sekolah punya peranan penting bagi kehidupan dan masa depan seseorang. Bila anda bisa membaca tulisan ini, saya bisa menebak bahwa anda minimal telah menempuh pendidikan dasar 9 tahun. Alasan lain saya menulis tentang sekolah adalah bahwa saya sekarang kembali ke sekolah. Ayo sekolah! He3. Tentu saja bukan lagi sebagai murid, melainkan sekarang menjadi guru. Kata guru saya di kampus perguruan tinggi, selama manusia masih beranak pinak, pekerjaan sebagai guru dan tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, dsb) akan tetap ada dan dibutuhkan.

Kembali ke awal, saya ingin membicarakan tentang kapur tulis. Apa istimewanya kapur tulis, barangkali begitu pikiran anda, para pembaca, ketika membaca tulisan ini. Mari kita kilas balik perjalanan hidup kita, saat anda dan saya duduk di bangku sekolah dasar. Masih ingusan, barangkali. Apa merk kapur tulis saat itu? Saya ingat betul, merk “Sarjana”. Hingga saya kembali ke sekolah, kapur tulis yang saya gunakan ternyata masih bermerk yang sama! Coba, apa merk kapur tulis saat anda masih sekolah? Kemungkinan besar sama! Mari kita belajar lagi berhitung bersama-sama. Jika misalnya satu kelas butuh satu kotak kapur tulis untuk dua hari, berarti satu kelas butuh  enam kotak untuk satu minggu. Bila ada enam kelas, satu sekolah tersebut butuh tiga puluh enam kotak untuk satu minggu. Itu baru satu minggu, sementara ada berpuluh-puluh minggu efektif dalam kalender pendidikan. Itu baru satu sekolah. Hitung sendiri jumlah kotak kapur yang dibutuhkan untuk semua sekolah di Indonesia yang masih menggunakan kapur tulis. Bila memang demikian besar kebutuhan kapur tulis di Indonesia, saya yakin pemilik perusahaan kapur tulis merk di atas tentu saat ini kaya luar biasa. Hebatnya lagi, tak perlu pasang iklan di media massa, baik cetak ataupun elektronik, apalagi internet. Apa anda pernah melihat iklan kapur tulis? Kalau iklan kapur ajaib untuk menumpas kecoa mungkin kita sering. Dengan kata lain, saya yakin pemilik perusahaan kapur tulis merk “Sarjana” punya akses yang sangat luas dalam memasarkan produknya, bahkan boleh dikata merajai pasaran kapur tulis di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, karena sampai saat ini saya belum menemukan merk kapur tulis yang lain.

Sepotong kapur tulis yang teronggok di kelas tentu punya cerita. Barangkali dia adalah saksi dari dedikasi seorang guru yang tulus ikhlas dalam mengajar dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Bisa saja sepotong kapur itu adalah saksi dari murid-murid yang cerdas namun berada di tempat dan fasilitas yang sangat terbatas, sebagaimana bisa kita tonton pada film Laskar Pelangi. Bisa juga sepotong kapur tulis itu adalah saksi dari benih-benih cinta monyet yang tumbuh saat masa sekolah gara-gara kita salah melempar kapur tulis dan akhirnya kita naksir pada orang yang kita lempar tersebut.

Anda mungkin ada yang menanggapi, di era internet seperti ini kapur tulis masih dipakai? Jangan salah bung! Masih banyak sekolah-sekolah yang menggunakan papan tulis dan kapur sebagai media pembelajaranya. Mengenai efektif atau tidaknya media tersebut, semua kembali kepada si pemegang kapur tulis dan penguasa papan tulis, dengan kata lain guru itu sendiri! Mereka yang saat ini duduk di kursi-kursi pemerintahan dan menjadi tokoh masyarakat, bisa juga adalah produk dari media pembelajaran sederhana ini. BJ Habibie, mungkin saja menikmati hari-hari mudanya di sekolah dengan media pembelajaran itu. Mengutip kata bijak dari Barat, semuanya tergantung dari “the man behind the gun”. Dengarkan saja celoteh Iwan Fals dalam lagunya Oemar Bakri, “Oemar Bakri..banyak ciptakan menteri”. Saya yakin bila tokoh Oemar Bakri ini benar-benar ada, dia tentu saat itu menggunakan metode pembelajaran “chalk and talk” dengan kapur tulis dan papan tulis. Metode pembelajaran dengan menggunakan LCD proyektor, akan tetapi guru yang bersangkutan tidak menguasai materi dan tidak bersemangat mengajar atau hanya kejar setoran, tentu tidak akan menghasilkan murid-murid yang memahami pelajaran.

Di akhir tulisan ini, sepotong kapur tulis berdebu merupakan media perantara transfer ilmu dari guru ke murid yang masih banyak digunakan di pelosok negeri. Bila ingin mutu pendidikan kita meningkat, kita tidak usah menghujat sepotong kapur tulis berdebu ini. Kita tanyakan saja kepada guru-guru kita, sudahkah mereka meningkatkan kualitas diri mereka? Sudahkah mereka mengubah paradigma pembelajaran yang berpusat ke guru (teacher centered) menjadi berpusat ke siswa (student centered)? Dan akan masih banyak pertanyaan lain yang seharusnya ditanyakan kepada guru-guru kita dan tentu juga ke saya.

A great teacher inspires. A superior teacher demonstrates. A good teacher explains. A mediocre teachers tells. (Ahmad Rizali, 2009 : 73) . Bila dialihbahasakan ke bahasa persatuan kita, kurang lebih akan berbunyi seperti ini : guru yang “agung” memberi inspirasi. Guru yang superior mendemonstrasikan (keterampilan mereka sebagai guru). Guru yang baik menjelaskan. Guru yang medioker (bahasa sederhananya “ecek-ecek” atau biasa saja) mengatakan.

Referensi : Ahmad Rizali, Indra Djati Sidi dkk. 2009. Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia

Inspirasi : lagu Oemar Bakri, Iwan Fals. Film Laskar Pelangi. Kapur tulis merk “Sarjana”

Setahun Blogku Selasa, Apr 28 2009 

April 2009 ini, blogku ini akan berusia satu tahun. Ibarat manusia, satu tahun masih ada dalam usia balita (bawah lima tahun). Ya iyalah, jelas-jelas satu tahun kan dibawahnya lima tahun 😛
Bayi yang berusia satu tahun akan selalu membutuhkan sentuhan hangat dari kedua orang tuanya, masih butuh kasih sayang, dan masih menyusui. Bayi yang baru berusia 365 hari butuh waktu untuk tumbuh besar dan berkembang.
Begitu pula dengan blog. Masih butuh perhatian dan kasih sayang, baik dari pemilik maupun pengunjungnya. Agar blog tumbuh dan berkembang, itu tanggungjawab dari empunya blog. Perlu lima imunisasi dasar, kata iklan di televisi. Imunisasi di blog tentu saja yang pertama imunisasi terhadap malas nge-blog. Kedua, terhadap mati ide. Ketiga, terhadap malas blogwalking. Keempat dan kelima, silakan cari sendiri, hehe.
Setahun blog ini banyak membawa kesan tersendiri, contohnya banyak bersua dengan rekan-rekan seantero penjuru Indonesia, ada salah satu posting yang ratingnya (emangnye film? :P) tinggi, yaitu posting tentang motto skripsi, padahal posting tersebut guyon belaka. Maaf buat kawan-kawan yang pernah mampir di postingan itu. Cobalah lebih keras dalam mencari motto skripsi. Kawan-kawan bisa mampir ke situs yang memuat quote atau komentar-komentar dari orang terkenal. Ada pula posting saat penulis terbuai pesona film AAC. Ada akhwat manis yang menggoda pandangan saat penulis naik kereta api, ada pula gadis manis (tapi sombong) saat penulis naik angkutan kota. Ah, masih banyak kesan lainya.
Setahun blog ini juga membawa penulis kembali ke kota kelahiran, Brebes. September 2001 sampai dengan pertengahan Maret 2009, itulah masa-masa aku berkelana di rantau orang, di Kota Semarang. Masa yang menghadirkan selaksa kenangan, entah manis, pahit, asam ataupun getir. Masa yang memunculkan cinta? Ya, akan tetapi cinta belum memihakku. Ibarat pelangi,
ia selalu terlihat indah. Begitu kudekati dan kucoba untuk meraihnya, ia sirna. Ah, sudahlah. Barangkali pelangi-pelangi itu sudah bisa diraih oleh orang lain. Semoga masih ada pelangi lain yang tak kalah indah untuk diraih. Masa-masa sulit, baik studi, keuangan, dan sebagainya. Alhamdulillah, semuanya bisa dilalui dan semoga semuanya bisa menjadi pelajaran di masa mendatang.
Di kota kelahiranku ini pula, koneksi internetku bertolak belakang saat masih di Kota Semarang. Sejak 2006 sampai pertengahan Maret 2009, aku sudah jarang mengeluarkan biaya untuk mengakses internet. Bisa dikatakan gratis. 24 jam pula, bila kondisi memungkinkan. Semua itu bisa terjadi karena pekerjaan sampinganku. Begitu kembali di rumah, tiba akhirnya harus membayar untuk koneksi internet. Sungguh suatu gegar teknologi (meminjam istilah gegar budaya) bagiku. Harus ada penyesuaian (terutama isi dompet) untuk mengatasi hal ini. Berat tapi harus tetap dijalani. Jadi ingat, dulu sering “turun gunung” di tahun 2002 hanya untuk pergi ke warnet. Jadi, kawan-kawan yang kasih komentar harap bersabar ya?

Boden Powell Day : Lets Creating a Better World Rabu, Feb 25 2009 

Bagi sebagian besar, 22 Februari bukanlah hari yang bersejarah. Akan tetapi, bagi mereka yang pernah aktif ataupun aktif dalam kegiatan kepanduan di seluruh penjuru dunia, 22 Februari tentu akan dikenang sebagai hari lahirnya Robert Stephenson Smith a.k.a Lord Baden Powell, Chief Scout of the World. Saya tak bermaksud mengulas tentang sejarah beliau, bila ingin tahu lebih banyak tentang beliau silakan berkunjung ke laman http://id.wikipedia.org/wiki/Robert_Baden-Powell atau versi resmi WOSM di http://www.scout.org/en/about_scouting/facts_figures/baden_powell

aktifitas saat JOTI (lebih…)

« Laman SebelumnyaLaman Berikutnya »