Kaligung EkonomiBagi para mahasiswa dari kawasan Pantura (Brebes-Kota/Kab. Tegal -Pemalang-Kota/Kab.Pekalongan-Batang) yang menimba ilmu di Semarang pada kisaran tahun 2001 – 2008, tentu tidak asing lagi dengan “sarana transportasi sejuta umat” yang bernama KA Kaligung Ekonomi ini. Dengan tarif sekitar Rp 9.000,- yang berangsur-angsur naik ke sekitar Rp 13.000,-, tak heran KA ini laris manis dan penumpangnya selalu berjubel terutama saat usai masa liburan kuliah, hingga suatu saat aku pernah berdiri dari Stasiun Tegal – Stasiun Poncol! 3,5 jam perjalanan kuhabiskan dengan berdiri!

Banyak cerita yang kudapatkan selama menggunakan jasa KA ini. Ada kisah akhwat manis di dalam kereta yang dulu pernah kutulis. Aku pernah juga suatu ketika naik KA ini dan ada yang melempar tanah liat. Untung saja tidak sampai masuk ke dalam dan mengenai mata dari penumpang. Ada pemandangan indah sepanjang perjalanan, baik dalam arti sebenarnya dan dalam tanda kutip. Begitu memasuki Batang maka KA akan persis berada di tepi pantai Sigandu. Bila kita berangkat pagi-pagi buta atau pulang pada sore hari maka kita bisa menikmati indahnya panorama matahari terbit atau matahari tenggelam. Menikmati panorama matahari terbit atau tenggelam di KA yang sedang berjalan adalah sebuah kenikmatan tersendiri, mungkin tarafnya sedikit di bawah menikmati dua panorama tersebut di pesawat terbang. Pemandangan indah dalam tanda kutip tentu saja dari kaum hawa yang naik KA ini. Banyak ragamnya dan banyak pula penampilanya, mulai dari yang model akhwat sampai yang model seksi abis juga ada. Kaum hawa yang sudah sepuh pun ada, sambil momong cucunya. Sagala aya dah pokoknya!🙂

Pernah juga suatu ketika aku naik kereta ini dengan rekan-rekanku pegiat Pramuka di Dewan Racana Wijaya 2005 menuju Semarang. Masih berseragam Pramuka karena baru saja menghadiri kegiatan di UPP PGSD Tegal. Ketika sedang berbincang-bincang, tiba-tiba ada rekan seperjalanan,seorang mahasiswi kurasa,bertanya, “Dari SMA mana nih?”. Sontak aku dan rekan-rekanku tersenyum simpul, lalu kujawab.”SMA 1 Gunungpati”. Mahasiswi tersebut pun baru sadar ternyata bahwa aku dan rekan-rekanku sudah berstatus mahasiswa. Mahasiswa kok masih berpramuka, itu adalah sebuah pertanyaan rutin yang sudah sering kujumpai saat itu.

Bicara tentang Pramuka mengingatkanku bahwa suatu ketika aku juga pernah mencoba menawarkan tempat duduk ke seorang ibu dan anaknya yang tidak kebagian tempat duduk. Aku pun bergeser, pindah tempat duduk dari semula di kursi pindah ke “lesehan” alias lantai dengan beralaskan koran. Tak lama kemudian, datanglah kondektur KA memeriksa karcis. Giliran si ibu dan anak tersebut diperiksa, oalah ternyata ibu tersebut belum membeli karcis KA! Pripun to bu, batinku saat itu.

Bila kita berbicara tentang KA di negeri ini pada umumnya, maka kita juga harus bicara tentang kedisiplinan dan kesabaran, dua lagi kutambahkan yaitu ketabahan dan pengorbanan. Kedisiplinan agaknya barang langka di dunia perkereta apian. Waktu KA datang atau berangkat sering terlambat, bahkan disindir seorang Iwan Fals dalam lagunya “Kereta Tiba Pukul Berapa”. Iwan bernyanyi, ”Sampai stasiun kereta, pukul setengah dua. Duduk aku menunggu, tanya loket dan penjaga, kereta tiba pukul berapa? Biasanya kereta terlambat. Dua jam mungkin biasa”. Sebuah sindiran yang menohok bahkan hingga saat ini, saat Kementerian BUMN dipimpin oleh Dahlan Iskan.

Di Jepang konon kabarnya KA sudah sedemikian tepat waktu, sesuai jadwal. Kita? Entahlah, bisa berangkat dan naik KA saja sudah untung, alon-alon lan telat waton kelakon, sisi orang Jawa dalam hatiku berkata. Dasar orang Jawa, selalu berkata “untung tidak ini, untung tidak itu”, alon-alon waton kelakon, ya akhirnya ketinggalan terus, begitu rutukku dalam hati. Bagaimanapun juga, aku tetap bangga jadi orang Jawa dan Indonesia. Right or wrong is my country. Dangdut is music of my country,kata Project Pop,hehe. Lebih baik hujan batu di negeri sendiri daripada hujan emas di negeri orang, begitu kata peribahasa. Kalau boleh memilih, akan lebih baik lagi kalau hujan emas di negeri sendiri atau boleh saja hujan batu di negeri sendiri, batu-batunya kita kumpulkan lalu kita ekspor ke negeri orang, terutama negeri singa yang katanya butuh pasir/batu untuk menguruk pantainya. Lumayan kan nambah devisa,hehe. Bila boleh memilih, akan sangat lebih baik lagi bila hujan emas dan batu di negeri sendiri. Dobel pemasukan. Lho kok sampai ngurusi devisa segala, bukanya sedang membahas KA?hehe. Kesabaran jelas sangat dibutuhkan, kaitanya dengan keterlambatan-keterlambatan tadi. Belum lagi kalau ada kasus KA lain yang anjlok atau ada tabrakan antarkereta. Pernah suatu ketika ada KA lain yang berangkat terlebih dahulu anjlok di Batang, maka KA Kaligung yang kunaiki terpaksa berhenti di Stasiun Krengseng. Berhenti lama sekitar 2 atau 3 jam-an baru melanjutkan perjalanan.

Penerapan ketabahan dan pengorbanan benar-benar kupraktikan, bahkan survival juga kupraktikan. Siang itu, aku agak terlambat pulang dari Bumijawa. Sepanjang perjalanan menuju Kota Tegal, dalam hati ku berdoa agar KA Kaligung Ekonomi yang akan kunaiki terlambat berangkat. Ternyata doaku terkabul, kereta sore itu benar-benar terlambat berangkat. Kereta berangkat pukul 5 sore, butuh waktu 1 jam untuk sampai Pemalang! Tentu ada ‘masalah’ dengan kereta ini. Setelah sekian menit menunggu di Pemalang, akhirnya bantuan lokomotif yang mengantar ke stasiun Batang. Di Batang jelaslah sudah, lokomotif penolong baru datang jam 4 pagi, karena padatnya jadwal. Sontak penumpang pun bereaksi beragam. Ada yang memilih melanjutkan perjalanan dengan bus setelah naik ojek, ada pula yang memilih naik kereta api ekonomi Jakarta-Surabaya yang ternyata penuh sesak! Aku pun mencoba naik kereta ini, apa daya penumpang sudah overload dan kurang nyaman dengan celotehan yang tak bersahabat dari penumpang kereta tersebut melihat tambahan penumpang yang mencoba naik.

Kuputuskan bermalam di KA Kaligung Ekonomi setelah melihat bekal yang ada yaitu air mineral 1 botol 600 ml dan satu bungkus biskuit gandum. Masalah tempat tidur, tak masalah. Kursi panjang oranye khas KA Kaligung Ekonomi cukup nyaman untuk dijadikan tempat tidur. Badan penat membuat tidurku cukup pulas. Keesokan harinya, datanglah lokomotif penolong dan singkat cerita aku pun tiba di Semarang sekitar jam 7.30 pagi. Sebuah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan!

Kini, KA Kaligung Ekonomi sudah tidak beroperasi. Entah mesinya rusak atau ada hal lain. Terima kasih, KA Kaligung Ekonomi. Engkau adalah bagian dari kisah perjalanan hidupku sebagai salah satu dari ribuan/jutaan WNI yang sempat mengenyam pendidikan tinggi,  MAHASISWA yang bermetamorfosis menjadi SARJANA. Engkaulah sarana yang mendekatkan kampung dengan kampus nan jauh di mato. Di dalam gerbongmu ada konsep Bhinneka Tunggal Ika yang sebenarnya, meski berbeda-beda status,golongan tetapi satu (tujuan) jua. Di dalam gerbongmu tergantung asa para mahasiswa dari kampung.Di dalam gerbongmu kami sandarkan cita-cita. Sampai jumpa, KA Kaligung Ekonomi. Bila waktu mempertemukan kita kembali, semoga engkau dalam kondisi fisik yang prima dan saat itu aku kembali ‘hanyut dan larut’ dalam status mahasiswa : pascasarjana. Aamiin🙂