Kembali ke sekolah memang membuatku menulis, tapi tulisan yang sudah baku dan ada formatnya, entah dari Dinas Pendidikan ataupun dari pihak sekolah melalui Wakasek Kurikulum. Tulisan itu antara lain struktur kurikulum, analisis kurikulum, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (termasuk di dalamnya kisi-kisi soal, butir soal, norma penilaian, dan kunci jawaban), dan lembar kerja praktik. Belum lagi bahan ajar dan setumpuk berkas-berkas terkait ISO 9001: 2008 (maklum, tempatku bekerja sudah menerapkan sistem manajemen mutu tersebut dan tahun ini adalah tahun kedua, sudah 1st follow up audit).

Melihat banyaknya berkas yang harus ditulis, maka akan sangat mengherankan bila ada guru yang menyatakan tidak bisa menulis. Mungkin saja guru yang menyatakan demikian belum atau tidak pernah menyusun segudang administrasi di atas. Pernyataanya perlu kita pertegas dan persempit, menulis apa? Segudang administrasi di atas adalah tulisan yang sudah terformat bentuknya, jadi kita tinggal menuliskan isi sesuai dengan format yang sudah disediakan. Bagi sebagian (dan mungkin kebanyakan guru), menulis administrasi tersebut sangat menyiksa lahir dan batin.

Menulis bebas, seperti tulisan ini? Mudah saja, tulis saja apa yang anda pikirkan, seperti anda menulis status di facebook. Masalah EYD atau pemilihan kata yang kurang tepat, nanti dulu. Menulis karya ilmiah? Bila anda sarjana yang lulus dengan mengambil mata kuliah skripsi, bukankah skripsi adalah salah satu bentuk karya ilmiah? Atau jangan-jangan bukan anda sendiri yang menyusun skripsi tersebut, dengan kata lain skripsi anda dioutsourcingkan? Semoga dugaan itu salah besar.

Aku yakin, tidak bisa menulis tersebut karena belum terbiasa. Belum terbiasa karena belum mencoba. Belum mencoba karena malas. Mungkin juga terbelenggu aktifitas menulis segudang administrasi yang disebutkan di atas. Kita mungkin perlu rutin membiasakan diri menulis, menulis apa saja yang menarik perhatian kita. Bila perlu, kita biasakan menulis refleksi setelah mengajar di kelas. Bagaimanakah suasana pembelajaran tadi, adakah hal menarik yang terjadi di kelas, adakah siswa yang antusias bertanya, adakah siswa yang tampak mengalami kesulitan belajar, dan sebagainya.

Intinya adalah rutin, mulai sedikit demi sedikit. Aku hari ini pun memulainya kembali setelah sekian lama tak menulis. Kita perlu mengutip pesan dari guru blogger terkenal yang terpilih menjadi Guraru (guru era baru) 2011, Om Wijayakusumah. Menulislah setiap hari, lalu perhatikan apa yang terjadi. Satu kata lagi, kebiasaan menulis harus diikuti dengan kebiasaan membaca. Untuk itulah, Satria Dharma (Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI)) menyusun buku dari kumpulan tulisanya di blog dengan judul “For The Love of Reading and Writing”, buku yang dicetak eksklusif dan belum diperjualbelikan. Kabar baiknya adalah insya Allah aku mendapatkan kiriman buku tersebut, langsung dari Balikpapan. Membaca dan menulis, itulah kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru. Para guru seyogianya adalah mereka yang gemar membaca sekaligus gemar menulis. Para guru seyogianya adalah mereka yang gemar membaca sekaligus gemar menulis. Anda siap? Bila anda enggan membaca buku yang berat-berat, bacalah buku Totto Chan dengan cover seperti tertera pada gambar,lalu resapi dan maknai🙂