Sudah lama saya ingin menulis lagi, baru saat ini saya punya waktu longgar. Mengapa saya ambil latar belakang sekolah, karena bagaimanapun juga sekolah punya peranan penting bagi kehidupan dan masa depan seseorang. Bila anda bisa membaca tulisan ini, saya bisa menebak bahwa anda minimal telah menempuh pendidikan dasar 9 tahun. Alasan lain saya menulis tentang sekolah adalah bahwa saya sekarang kembali ke sekolah. Ayo sekolah! He3. Tentu saja bukan lagi sebagai murid, melainkan sekarang menjadi guru. Kata guru saya di kampus perguruan tinggi, selama manusia masih beranak pinak, pekerjaan sebagai guru dan tenaga kesehatan (dokter, bidan, perawat, dsb) akan tetap ada dan dibutuhkan.

Kembali ke awal, saya ingin membicarakan tentang kapur tulis. Apa istimewanya kapur tulis, barangkali begitu pikiran anda, para pembaca, ketika membaca tulisan ini. Mari kita kilas balik perjalanan hidup kita, saat anda dan saya duduk di bangku sekolah dasar. Masih ingusan, barangkali. Apa merk kapur tulis saat itu? Saya ingat betul, merk “Sarjana”. Hingga saya kembali ke sekolah, kapur tulis yang saya gunakan ternyata masih bermerk yang sama! Coba, apa merk kapur tulis saat anda masih sekolah? Kemungkinan besar sama! Mari kita belajar lagi berhitung bersama-sama. Jika misalnya satu kelas butuh satu kotak kapur tulis untuk dua hari, berarti satu kelas butuh  enam kotak untuk satu minggu. Bila ada enam kelas, satu sekolah tersebut butuh tiga puluh enam kotak untuk satu minggu. Itu baru satu minggu, sementara ada berpuluh-puluh minggu efektif dalam kalender pendidikan. Itu baru satu sekolah. Hitung sendiri jumlah kotak kapur yang dibutuhkan untuk semua sekolah di Indonesia yang masih menggunakan kapur tulis. Bila memang demikian besar kebutuhan kapur tulis di Indonesia, saya yakin pemilik perusahaan kapur tulis merk di atas tentu saat ini kaya luar biasa. Hebatnya lagi, tak perlu pasang iklan di media massa, baik cetak ataupun elektronik, apalagi internet. Apa anda pernah melihat iklan kapur tulis? Kalau iklan kapur ajaib untuk menumpas kecoa mungkin kita sering. Dengan kata lain, saya yakin pemilik perusahaan kapur tulis merk “Sarjana” punya akses yang sangat luas dalam memasarkan produknya, bahkan boleh dikata merajai pasaran kapur tulis di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun, karena sampai saat ini saya belum menemukan merk kapur tulis yang lain.

Sepotong kapur tulis yang teronggok di kelas tentu punya cerita. Barangkali dia adalah saksi dari dedikasi seorang guru yang tulus ikhlas dalam mengajar dan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 1945. Bisa saja sepotong kapur itu adalah saksi dari murid-murid yang cerdas namun berada di tempat dan fasilitas yang sangat terbatas, sebagaimana bisa kita tonton pada film Laskar Pelangi. Bisa juga sepotong kapur tulis itu adalah saksi dari benih-benih cinta monyet yang tumbuh saat masa sekolah gara-gara kita salah melempar kapur tulis dan akhirnya kita naksir pada orang yang kita lempar tersebut.

Anda mungkin ada yang menanggapi, di era internet seperti ini kapur tulis masih dipakai? Jangan salah bung! Masih banyak sekolah-sekolah yang menggunakan papan tulis dan kapur sebagai media pembelajaranya. Mengenai efektif atau tidaknya media tersebut, semua kembali kepada si pemegang kapur tulis dan penguasa papan tulis, dengan kata lain guru itu sendiri! Mereka yang saat ini duduk di kursi-kursi pemerintahan dan menjadi tokoh masyarakat, bisa juga adalah produk dari media pembelajaran sederhana ini. BJ Habibie, mungkin saja menikmati hari-hari mudanya di sekolah dengan media pembelajaran itu. Mengutip kata bijak dari Barat, semuanya tergantung dari “the man behind the gun”. Dengarkan saja celoteh Iwan Fals dalam lagunya Oemar Bakri, “Oemar Bakri..banyak ciptakan menteri”. Saya yakin bila tokoh Oemar Bakri ini benar-benar ada, dia tentu saat itu menggunakan metode pembelajaran “chalk and talk” dengan kapur tulis dan papan tulis. Metode pembelajaran dengan menggunakan LCD proyektor, akan tetapi guru yang bersangkutan tidak menguasai materi dan tidak bersemangat mengajar atau hanya kejar setoran, tentu tidak akan menghasilkan murid-murid yang memahami pelajaran.

Di akhir tulisan ini, sepotong kapur tulis berdebu merupakan media perantara transfer ilmu dari guru ke murid yang masih banyak digunakan di pelosok negeri. Bila ingin mutu pendidikan kita meningkat, kita tidak usah menghujat sepotong kapur tulis berdebu ini. Kita tanyakan saja kepada guru-guru kita, sudahkah mereka meningkatkan kualitas diri mereka? Sudahkah mereka mengubah paradigma pembelajaran yang berpusat ke guru (teacher centered) menjadi berpusat ke siswa (student centered)? Dan akan masih banyak pertanyaan lain yang seharusnya ditanyakan kepada guru-guru kita dan tentu juga ke saya.

A great teacher inspires. A superior teacher demonstrates. A good teacher explains. A mediocre teachers tells. (Ahmad Rizali, 2009 : 73) . Bila dialihbahasakan ke bahasa persatuan kita, kurang lebih akan berbunyi seperti ini : guru yang “agung” memberi inspirasi. Guru yang superior mendemonstrasikan (keterampilan mereka sebagai guru). Guru yang baik menjelaskan. Guru yang medioker (bahasa sederhananya “ecek-ecek” atau biasa saja) mengatakan.

Referensi : Ahmad Rizali, Indra Djati Sidi dkk. 2009. Dari Guru Konvensional Menuju Guru Profesional. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia

Inspirasi : lagu Oemar Bakri, Iwan Fals. Film Laskar Pelangi. Kapur tulis merk “Sarjana”