April 2009 ini, blogku ini akan berusia satu tahun. Ibarat manusia, satu tahun masih ada dalam usia balita (bawah lima tahun). Ya iyalah, jelas-jelas satu tahun kan dibawahnya lima tahun😛
Bayi yang berusia satu tahun akan selalu membutuhkan sentuhan hangat dari kedua orang tuanya, masih butuh kasih sayang, dan masih menyusui. Bayi yang baru berusia 365 hari butuh waktu untuk tumbuh besar dan berkembang.
Begitu pula dengan blog. Masih butuh perhatian dan kasih sayang, baik dari pemilik maupun pengunjungnya. Agar blog tumbuh dan berkembang, itu tanggungjawab dari empunya blog. Perlu lima imunisasi dasar, kata iklan di televisi. Imunisasi di blog tentu saja yang pertama imunisasi terhadap malas nge-blog. Kedua, terhadap mati ide. Ketiga, terhadap malas blogwalking. Keempat dan kelima, silakan cari sendiri, hehe.
Setahun blog ini banyak membawa kesan tersendiri, contohnya banyak bersua dengan rekan-rekan seantero penjuru Indonesia, ada salah satu posting yang ratingnya (emangnye film? :P) tinggi, yaitu posting tentang motto skripsi, padahal posting tersebut guyon belaka. Maaf buat kawan-kawan yang pernah mampir di postingan itu. Cobalah lebih keras dalam mencari motto skripsi. Kawan-kawan bisa mampir ke situs yang memuat quote atau komentar-komentar dari orang terkenal. Ada pula posting saat penulis terbuai pesona film AAC. Ada akhwat manis yang menggoda pandangan saat penulis naik kereta api, ada pula gadis manis (tapi sombong) saat penulis naik angkutan kota. Ah, masih banyak kesan lainya.
Setahun blog ini juga membawa penulis kembali ke kota kelahiran, Brebes. September 2001 sampai dengan pertengahan Maret 2009, itulah masa-masa aku berkelana di rantau orang, di Kota Semarang. Masa yang menghadirkan selaksa kenangan, entah manis, pahit, asam ataupun getir. Masa yang memunculkan cinta? Ya, akan tetapi cinta belum memihakku. Ibarat pelangi,
ia selalu terlihat indah. Begitu kudekati dan kucoba untuk meraihnya, ia sirna. Ah, sudahlah. Barangkali pelangi-pelangi itu sudah bisa diraih oleh orang lain. Semoga masih ada pelangi lain yang tak kalah indah untuk diraih. Masa-masa sulit, baik studi, keuangan, dan sebagainya. Alhamdulillah, semuanya bisa dilalui dan semoga semuanya bisa menjadi pelajaran di masa mendatang.
Di kota kelahiranku ini pula, koneksi internetku bertolak belakang saat masih di Kota Semarang. Sejak 2006 sampai pertengahan Maret 2009, aku sudah jarang mengeluarkan biaya untuk mengakses internet. Bisa dikatakan gratis. 24 jam pula, bila kondisi memungkinkan. Semua itu bisa terjadi karena pekerjaan sampinganku. Begitu kembali di rumah, tiba akhirnya harus membayar untuk koneksi internet. Sungguh suatu gegar teknologi (meminjam istilah gegar budaya) bagiku. Harus ada penyesuaian (terutama isi dompet) untuk mengatasi hal ini. Berat tapi harus tetap dijalani. Jadi ingat, dulu sering “turun gunung” di tahun 2002 hanya untuk pergi ke warnet. Jadi, kawan-kawan yang kasih komentar harap bersabar ya?