Bersyukur. Kata yang mudah diucapkan akan tetapi sulit untuk dilaksanakan apabila belum terbiasa. Bersyukur tatkala kaya atau banyak rejeki itu sudah biasa. Tetap bersyukur, tatkala ditimpa musibah dan kesulitan, itu luar biasa.
Mari kita koreksi diri kita bersama apakah kita termasuk orang yang sudah bersyukur ataukah belum.

  1. Buka dompet anda. Lihat apa sajakah isinya. Uang? Kartu tanda penduduk? Kartu mahasiswa? Kartu Pegawai Negeri/Swasta? Foto istri atau suami, atau bahkan selingkuhan anda? Kartu kredit? Bersyukurlah! Masih banyak saudara kita yang tidak punya dompet karena tak punya sesuatu untuk diisi, entah uang. Berapapun uang di dompet anda, bersyukurlah! Hari ini di tempat lain ada saudara kita yang tak punya uang sama sekali. Bersyukurlah anda yang memiliki KTP. Masih banyak saudara sebangsa kita, yang bermata sipit, betapa sulitnya mengurus kewarganegaraan RI, penuh dengan diskriminasi. Di ibukota saudara kita yang tak memiliki KTP DKI Jakarta digelandang dan dikembalikan ke daerah asalnya lewat Operasi Yustisi. Anda memiliki KTM? Bersyukurlah! Anda masuk ke dalam golongan orang terpandang di negeri ini. Agent of change, kata para aktifis, terlepas aktifitas anda di kampus hanya sekadar 3K+2W (Kampus, Kantin, Kost, Warteg, dan Warnet) atau barangkali ditambah 1H/M (Hotel/Motel). Anda punya Kartu Pegawai Negeri? Bersyukurlah! Beribu orang berebut ingin menjadi seperti anda, entah caranya jujur, suap-sogok atau KKN, dan lain sebagainya. Anda pemilik Kartu Pegawai Swasta? Bersyukurlah! Sampai hari ini masih banyak pengangguran, bahkan sarjana saja banyak yang menganggur. Anda menyimpan foto pasangan anda, entah resmi atau ilegal dalam dompet? Bersyukurlah! Anda masih bisa punya pasangan, di lain pihak ada saudara kita yang belum menemukan pasanganya, mereka merintih dalam kesepianya.
  2. Belum cukup? Bila anda bisa membaca postingan saya ini, anda patut bersyukur. Bukan karena saya orang terkenal atau apa, tapi bersyukurlah anda sampai hari ini bisa mengakses intenet. Betapa banyak saudara kita yang jangankan internet, komputer saja mereka tidak pernah menyentuh. Bila beras, gas, dan sembako masih terasa mahal bagi mereka, apalagi koneksi internet.
  3. Masih belum cukup juga? Oke, sekarang tahan nafas anda. Rasakan sesaknya tidak bisa bernafas. Anda beruntung masih diberi kesempatan bernafas. Gratis pula. Coba anda di RS, oksigen saja harus bayar. Memang, kesehatan itu mahal harganya. Coba bayangkan apabila anda harus membayar oksigen yang anda hirup tiap detik, semisal seharga Rp 0,000..1 (mirip promosi operator telepon seluler) kepada Yang Maha Kuasa. Bisa bankrut kita. Kata orang di daerah saya, entek bebek entek ayam (habis bebek, habis pula ayam). Untung saja, sampai detik ini oksigen masih gratis. Bila anda masih bernafas, niscaya anda masih dikatakan makhluk hidup, sebab henti nafas bisa menyebabkan kematian. Sekali lagi, bersyukurlah anda masih hidup dan bisa bernafas.

    Terserah anda, mau lebih bersyukur atau tetap seperti biasanya dalam menjalani rutinitas kehidupan. Saya tidak sedang berkhotbah, melainkan juga mengingatkan diri saya sendiri.