Ibu … ibu … engkaulah ratu hatiku
Bila ku berduka, engkau hiburkan selalu
Ibu … ibu … engkaulah ratu hatiku
(Narasi : Bagi ibu-ibu yang penyayang)

Lagu ini saya dengar saat saya masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Sudah sekitar 17 tahun yang lalu. Lagu ini ada dalam sebuah pariwara produk susu. Pariwara ini ada di TV3, salah satu stasiun televisi di negeri jiran kita, Malaysia. Saya masih ingat, saat itu di rumah masih ada antena parabola yang bisa digunakan untuk menangkap siaran televisi dari negara tetangga (sampai sekarang antenanya masih, cuma sudah tidak digunakan). Lagu ini simpel tapi bagi saya punya makna yang mendalam, oleh karena itulah syair dan liriknya saya masih hafal sampai sekarang.

Di Indonesia, setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu. Entah apa sebabnya tanggal 22 Desember dijadikan Hari Ibu, saya tidak tahu tetapi saya ingin tahu mengapa bisa demikian. Muncul pertanyaan lain, bila ada Hari Ibu mengapa tidak ada hari Bapak? Mengapa tidak ada bapak negara, bapak pertiwi, dan lain sebagainya? Ah, saya tidak tahu. Biarlah para pakar bahasa di pusat bahasa yang memikirkan hal tersebut. Saya cukup memantau saja.

Kalau teringat ibu, saya teringat sosok tegar yang telah melahirkan saya dan membesarkan saya hingga sampai sebesar ini. Saya memanggil beliau dengan panggilan sayang “ummi”. Beliau masih di rumah, setia menemani bapak yang hingga saat ini masih bekerja membanting tulang dari dulu (seharusnya tulang beliau sudah remuk dari dulu, hehe. Tapi ndak papa, cuma istilah belaka). Saya terakhir bersama beliau beberapa minggu yang lalu. Aku menemani beliau yang saat itu masih sakit. Entah kenapa, saat beliau mulai membaik giliranku yang jatuh sakit. Suhu badan meninggi dan sariawan mendera bibir. Entah kenapa dua kali ini saat tiba di rumah, saya terkena sariawan, padahal di rumah banyak makanan-bergizi, mulai buah, dari buah salak, duku, jeruk, apel, sawo, juga nasi yang siap makan. Mungkin saja gara-gara terlalu banyak ngemil, bibir ini malah sariawan. Ah ada-ada saja. Butuh dua sampai tiga hari untuk sembuh.

Saat itu, saya sempat “dikerok” oleh beliau (bahasa Indonesianya apa sih?kerik?). lumayanlah meskipun dari segi kesehatan setahu saya kerokan tidak dianjurkan. Ah, yang paling manjur menurut saya adalah sentuhan kasih sayang dari ibu kita sendiri. Hal itulah yang bisa meredakan sakit kita.

Di Hari Ibu tahun 2008 ini, saya hanya bisa mendoakan agar ibu saya selalu diberi nikmat kesehatan dan juga selalu diberi rejeki dari Yang Maha Memberi Rejeki. Maafkan anakmu ini yang sejak dari kandungan hanya selalu menyusahkanmu, dengan “tendangan-tendangan tak beraturan”. Sampai saat ini pun masih merepotkanmu. Terima kasih telah melahirkan diri ini ke dunia dengan pengorbanan 9 bulan 10 hari (tepatnya berapa saya kurang tahu) dan pengorbanan antara hidup mati saat melahirkanku. Untuk ayahku, terima kasih juga telah mendampingi ummi sampai saat ini. Maaf pula bila terkadang ada langkahku yang tidak sesuai kehendakmu. Kalau boleh mengutip Ebiet G. Ade, “anakmu sekarang (sudah mulai) banyak menanggung beban.

Untuk para wanita, baik sudah ibu ataupun calon ibu di Indonesia yang merayakan atau tidak merayakan Hari Ibu, saya mengucapkan selamat Hari Ibu. semoga kita senantiasa ingat akan ibunda yang telah melahirkan kita tanpa melupakan peran seorang ayahanda.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Tuhanku, ampunilah kedua orang tuaku dan peliharalah mereka sebagaimana mereka memelihara aku tatkala masih kecil (kurang lebih demikian artinya)”. Kapan terakhir kita mendoakan orang tua kita, baik saat masih hidup ataupun sudah meninggal?

*posting ini diketik dengan sedikit berlinang air mata*