Maaf bagi rekan-rekan yang barangkali bosan dengan tema yang hampir senada, terutama di posting saya sebelumnya yang berjudul Akhwat Manis Dalam Kereta. Entah kenapa, posting tersebut lumayan banyak diklik orang. Judul posting menurut saya akan berpengaruh bagi calon pembaca.

Posting ini berdasarkan pengalaman saya saat naik angkutan kota dari stasiun Semarang Poncol menuju Sampangan pada hari ketujuh belas di bulan yang kesebelas tahun ini, sore hari. Dengan gegap gempita seusai perjalanan panjang menggunakan kereta api kelas bisnis (kali ini sang waktu memaksa saya merogoh dompet agak dalam), saya naik angkutan kota yang menawarkan trayek nonresmi Semarang Poncol – Sampangan. Saya sengaja duduk di bangku depan karena di bangku belakang supir para penumpang sudah berjejalan dengan indahnya😛

Naiklah saya di angkutan kota bagian depan. Wah, ternyata di depan sudah ada satu penumpang. Seorang gadis (tapi saya tidak tahu, masih “gadis” (baca : perawan) ataukah sudah tidak gadis😛 ) dengan wajah lumayan manis berbaju merah jambu. Oia, dia berkerudung pula, tapi saya memilih untuk tidak menyebutnya akhwat. Karena kebiasaan saya yaitu bertemu dan speak-speak dengan orang yang belum saya kenal, saya mencoba untuk mengawali pembicaraan dengan pancingan pembicaraan yang sudah klasik.

“Turun dimana, mbak?”, tanya saya.

“Kaligarang.” (dengan nada ketus dan tidak bersahabat).

Dengan jawaban yang seperti itu hilanglah keinginan saya untuk berbincang-bincang lebih jauh. Akhirnya daripada tengsin, saya mengajak speak-speak dengan supir angkutan kota mengenai pemberantasan preman, baik yang individu ataupun terorganisasi, yang kadang seakan didukung oleh aparat berwajib. Mendengar pertanyaan itu, supir pun menjawab dengan antusias. Mungkin baru kali ini dia menjumpai penumpang yang bisa-bisanya mau mengajak sopir mengobrol. Membahas tentang preman pula😀

Akhirnya gadis tadi diam saja menjadi pendengar setia pembicaraan saya dan supir angkot. Dengan manisnya pula dia menyilangkan lenganya di depan dada. Ya, dadanya gadis itu, masa di dada saya?😛 Ingatan saya melayang pada buku yang dulu pernah saya baca yaitu tentang bahasa tubuh. seingat saya di buku itu ketika orang dalam kondisi cuaca normal dan dalam pembicaraan menyilangkan lenganya di depan dada dan duduk menyilangkan kakinya, itu adalah pertanda perlindungan diri. Orang yang melakukan itu ingin tidak diganggu terlalu berlebihan, itu seingat saya. Itulah alasan berikutnya mengapa saya enggan mengajak gadis itu bicara lagi.

Langit mendung, awan menggantung. Hujan pun menyiram bumi dengan lebatnya. Tak terasa sudah mendekati daerah Kaligarang, dekat dengan supermarket apa itu namanya, saya lupa.

“Kiri, pak”, ucap gadis itu mantap.

Karena saya duduk di dekat pintu, saya pun turun. Kalau saya tidak turun tentu gadis itu akan kesulitan keluar dari angkutan kota. Like an other gentleman (hahaha, narsis!), saya pun membukakan pintu depan dari luar. Apa yang terjadi? Gadis itu turun dari angkutan kota dan melenggang tanpa kata, entah basa-basi ataupun terima kasih. Seutas senyum (kaya tali aja ya?) pun tak ada. Dalam hati saya merutuk “kurang ajar!”. Ah, tapi tak apalah. Bukan maksud saya untuk meminta terima kasih atas bantuan yang telah saya berikan. Setiap hari berbuat kebaikan, itu motto yang harus saya laksanakan setiap hari. Beberapa menit berlalu setelah itu, saya agak menyesal tadi tidak menyindir gadis itu dengan mengucapkan terima kasih, hehe😛 Orang sombong biasanya akan kena batunya bila disindir.

Memang, bagi beberapa orang, mengucapkan kata maaf, tolong, dan terima kasih merupakan hal yang sulit. Bila tidak dibiasakan sejak kecil niscaya di usia dewasa ketika mengucap tiga kata itu amatlah menyusahkan.