Judul posting ini sengaja saya adopsi dari sebuah judul salah satu cerita dalam novel remaja “Lupus” karya Hilman yang tenar di era saya masih duduk di bangku SD. Judul cerita tersebut yaitu Cewek Manis Dalam Bus. Berhubung saya bukan Lupus dan lagipula yang saya amati sekilas itu adalah cewek berjilbab besar, maka tepatlah kiranya judul posting ini dibuat dengan judul di atas. Saya juga pengguna setia kereta api (kurang lebih sudah 7 tahunan), jadi tidak ada salahnya dengan judul di atas.

http://profiles.friendster.com/40891045

Wajah akhwat itu manis dan putih bersih. Di tengah keramaian dan hiruk pikuk penumpang kereta, dengan tenangnya dia membaca ayat-ayat suci AlQur’an. Sungguh pemandangan yang tiada duanya dan jarang ditemukan olehku. Tangan kiri memegang telepon genggam dan tangan kanan memegang AlQur’an. Sepintas lalu bagiku itu merupakan sebuah symbol bahwa antara akhirat dan dunia keduanya dapat digenggam dan diraih bersama-sama.

Berbekal telinga dan mata yang entah kenapa masih suka melirik kemana-kemana (terutama bila ada gadis/akhwat yang manis,hehehe), kuketahui bahwa akhwat itu sudah selesai studinya dan tinggal menunggu diwisuda. Jurusan yang akan dia tinggalkan yaitu Tegal-Semarang eh jurusan Bahasa Inggris, kurang lebih di kampus yang sama denganku.

Ah, tak baik kalau terus menerus memerhatikanya. Hati bisa rusak, hohoho. Cukuplah dikenang dalam ingatan saja. Padahal ingatanku untuk mengingat wajah orang lain lumayan bagus, kata beberapa orang. Semoga saja cukup saat itu saja.