Sepintas judul posting ini mirip dengan judul sebuah peristiwa di negeri ini. Peristiwa apa itu? Bagi anak yang lahir di tahun 80-an dan 90-an tentu tidak begitu paham dengan peristiwa itu. Peristiwa itu sering disebut 6 jam di Yogya, sebuah hasil dari Serangan Oemoem 1 Maret. Banyak kontroversi terkait SO ini, antara lain masalah keterlibatan Letnan Kolonel (alm) Soeharto, begitu juga dengan peran Sri Sultan Hamengku Buwono ke-IX.

Senin (22/9/2008) aku datang ke Yogya untuk mengantar adikku yang akan operasi hernia di RSUD Sleman. Hari pertama tidak ada hambatan yang berarti. Aku jalani dengan enjoy aja, mirip tag sebuah iklan rokok. Hari kedua, adikku siap dioperasi. Sebelum dioperasi aku diminta menebus resep. Aku heran, dimanapun resep, tulisan dari dokter selalu seperti cakar ayam (baca : susah dibaca), tetapi dengan mudahnya dibaca oleh para apoteker. Jangan-jangan para dokter saat perkuliahanya yang lama (katanya jarang dokter yang lulus kuliah 4 atau 5 tahun) tidak diajari untuk menulis tegak bersambung atau setidaknya bisa menulis yang bisa dibaca oleh dirinya dan juga orang lain? Para apoteker saat sekolah/akademi farmasi barangkali ada mata pelajaran/kuliah membaca tulisan dokter? Atau barangkali tulisan para dokter sengaja dibuat jelek agar pasien susah membacanya dan tidak mengambil langkah sendiri bila memeroleh penyakit yang sama? Berandai-andai aku jadi dokter, aku akan menjadi dokter dengan tulisan tangan yang bagus. Setidaknya pernah ada guru yang memuji tulisan tangankušŸ˜› Ah ada-ada saja.

Kembali ke resep, aku menuju apotik RSUD Sleman. Busyet, ampul kecil untuk suntik sekali saja harus ditebus dengan dua ratus ribu rupiah. Mulai dari titik inilah aku muncul niat membuat posting ini. Saat sehat uang sejumlah dua ratus ribu rupiah bisa untuk beberapa macam keperluan, tapi kadang kita membelanjakan uang tersebut untuk membeli sesuatu yang bisa menyebabkan kita sakit seperti makanan cepat saji dan lain-lain.

Operasi berlangsung lancar. Adikku setelah operasi terbaring lemah tak berdaya. Sudah diinfus, (maaf) kemaluanya disisipi selang untuk menampung air seni atau dengan bahasa lain dipasangi kantong urine. Sungguh mengerikan membayangkan yang hal yang ini, kemaluan yang terpasang kantong urine. Memang saat memasang masih dalam kondisi terbius, tapi nanti saat melepas kantong urine tersebut dalam posisi sadar. Aku sampai bergidik saat melihat adikku mengerang-erang saat selang tersebut dilepas. Ngilu campur perih, kalau sampai setelah proses melepas selang dari kemaluan terus kemaluan tidak bisa berfungsi normal bisa berabe kan? Dari hasil pengamatan, ternyata perawat (kebetulan puteri) yang melepas selang langsung menarik selang tanpa memegang kemaluan adikku, seharusnya dipegang terlebih dahulu dan lubang kencingnya agak dibuka, tidak langsung main tarik. Entah malu atau apa, prosedur tersebut tidak dijalankan. Akhirnya ya rasa sakit luar biasa yang timbul. Pedih perih campur ngilu.

Keesokan paginya banyak dokter-dokter muda yang datang. Berani taruhan wis, mereka paling tidak seumuranku atau dibawahku coz biasanya jarang calon dokter yang bisa selesai kuliah 4 tahun atau 5 tahun persis. Sayang dokter puterinya tidak ada yang bisa diajak kenalan. Semuanya sibuk atau (sok) sibuk dengan pekerjaanya masing-masing. Dari sekejap pengamatan ada beberapa dokter muda yang cukup manis dengan jilbabnya yang lebar juga, hehe.

Agak bosan juga setelah beberapa hari, terutama mengenai menu berbuka. Lagi-lagi nasi goreng pedas porsi jumbo, kalau tidak ya mie goring. Untung saja hari Jumat adikku sudah diperkenankan pulang oleh dokter yang merawat. Jadi teringat hari-hari dimana adikku mengerang-erang saat luka jahitanya sakit ditambah lagi tidak bisa pipis pasca pelepasan kantong urine. Luar biasa sakitnya aku yakin.

Inti posting ini adalah agar kita menghargai kesehatan yang sudah kita miliki. Kita patut ingat bahwa ada perkataan bijak ā€œGunakan waktumu yang lima sebelum datang waktu yang limaā€.