Bulan Ramadhan bagi sebagian orang merupakan bulan penuh ampunan. Di bulan inilah dikatakan bahwa amal pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka selebar-lebarnya, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Sayangnya, setan-setan dalam diri manusia masihlah ada sehingga perbuatan jahat tetap saja berlangsung dalam bulan mulia ini. Puasa iya, korupsi jalan terus, hal itulah yang ada dalam benak para koruptor. Yang paling berbahaya di bulan mulia ini adalah setan-setan yang berbentuk manusia, mereka lebih jahat dari setan yang sebenarnya.

Kita tentu akan menemukan anomali dalam bulan ini. Masjid, mushola, di awal-awal bulan ramadhan akan penuh sesak, tapi di akhir bulan biasanya akan tinggal beberapa shaf saja. Kita kadang berangkat sholat cukup dengan mengenakan kaos oblong saja, padahal ketika akan menghadap calon mertua, berkunjung ke pacar, atau berangkat bekerja, kita berusaha berpakaian serapi mungkin. Begitukah penghargaan manusia terhadap Dzat Yang Menciptakannya? Dalam kitab suci umat Islam memang disebutkan bahwa manusia tidak pandai bersyukur. Dengan demikian, memakai kaos saat beribadah kepada-Nya merupakan salah satu bentuk kurang bersyukur.

Beberapa orang mengajak banyak pihak, termasuk pemeluk agama lain, untuk menghormati bulan puasa. Padahal, apakah agama lain juga pernah meminta hal yang sama untuk menghormati bulan ibadah mereka? Apakah gara-gara masyarakat muslim merupakan mayoritas di negeri ini lalu meminta perlakuan khusus, padahal kita sendiri belum bisa menghargai pemeluk agama lain dalam menjalankan ibadah mereka? Toh misalnya di bulan puasa ini banyak orang yang berbuat maksiat, bulan ramadhan itu sendiri akan tetap suci. Yang tidak suci adalah perbuatan orang-orang yang bermaksiat tadi.

Senyampang masih awal bulan ramadhan, marilah kita bersama-sama menginstropeksi diri kita sendiri. Sudahkah kita bersyukur pada-Nya? Sudahkah kita menghargai pemeluk agama lain dalam menjalankan ibadahnya? Untuk menuju derajat taqwa, 30 hari di bulan ramadhan ini saja tidaklah akan mencukupi.