Gambar diunduh dari http://www.nu.or.id

Bagi anda yang muslim, sholat mungkin sudah merupakan hal biasa karena kewajiban. Mengimami sholat bagi sebagian orang mungkin juga sudah biasa. Yang menjadi pertanyaan adalah ketika mengimami sholat seorang wanita , yang katakanlah belum atau bukan muhrim kita.

Saya mengalami hal tersebut 3 kali. 2 kali lutut saya “bergetar” dan sekali lutut saya bergetar dalam arti sesungguhnya. Yang pertama saya mengimami sholat subuh berdua (!) dengan teman wanita saya. Sekitar tahun 2003, sehabis pembubaran panitia, karena sampai kampus tengah malam jadi terpaksa bermalam (tentu saja beramai-ramai, tidak berduaan😛 ) di kampus, baru pulang saat subuh. Ndilalah dulu saya naksir dengan teman saya ini (jujur saja, sekarang orangnya sudah nikah, jelas bukan dengan saya😛 ). Sudah dingin, ditambah lutut bergetar pula. Habis sholat pikiran kemana-mana, membayangkan seandainya ini, seandainya itu, dan lain sebagainya. Yang kedua juga hampir sama, kalau yang ini adik tingkat saya, sholat dzuhur. Kalau yang ketiga saat lutut bergetar dalam arti sesungguhnya ini saat mengimami sholat subuh di daerah pegunungan, Gedongsongo. Yang diimami dua adik tingkatku. Lutut gemetaran dan gigi gemeletuk karena dinginya suhu.

Mungkin memang belum waktunya. Tentu ada masanya sendiri untuk mengimami seorang wanita. Untuk mengimami seorang wanita (baca : yang akan menjadi istri), kita hanya butuh seperangkat alat sholat. Tapi tidak cukup itu, harus siap-siap bekal lain yang banyak.